‘Subsidi’ Biodiesel Jokowi Belum Efektif Dongkrak Harga Sawit

Belitung, CNN Indonesia — Gabungan Asosiasi Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) menyebut Peraturan Presiden Nomor 66 Tahun 2018 soal Perubahan Kedua atas Peraturan Presiden Nomor 61 Tahun 2015 tentang Penghimpunan dan Penggunaan Dana Perkebunan Kelapa Sawit belum mampu mendongkrak harga minyak sawit di pasar.

Sebelumnya, dalam Perpres 66/2018, cakupan penggunaan biodiesel 20 persen (B20) yang mendapatkan insentif dana yang dihimpun Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDP-KS) diperluas.

Tadinya, insentif terbatas hanya pada solar yang digunakan pada kegiatan penugasan pemerintah (PSO) menjadi PSO dan non-PSO.

Wakil Ketua Umum III Urusan Perdagangan dan Keberlanjutan Gapki Togar Sitanggang mengungkapkan harga minyak sawit mentah (CPO) baru akan naik setelah kebijakan tersebut benar-benar diimplementasikan. Rencananya kebijakan tersebut baru akan berlaku pada 1 September 2018 mendatang.

“Kalau di luar, mungkin rencana saja sudah bisa mempengaruhi harga, tetapi untuk Indonesia tidak begitu. Orang luar tidak ingin mendengar rencana,” ujarnya dalam acara Lokakarya dengan awak media di Belitung, Kamis (23/8).

Setelah menerbitkan Perpres 66/2018, menurut Togar, pemerintah masih memiliki pekerjaan rumah untuk menyelesaikan aturan teknis dalam bentuk Peraturan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral.


Pertama
, peraturan mengenai penghitungan dana BPDP-KS yang dialokasikan ke sektor non PSO.

Kedua, mengenai pembagian porsi produksi Bahan Bakar Nabati (BBN) yang merupakan komponen pencampur biodiesel dari masing-masing Badan Usaha Bahan Bakar Nabati (BUBBN).

Selain itu, pemerintah juga perlu mengatur besaran pasokan BBN dari masing-masing BUBBN yang akan disalurkan ke Badan Usaha Bahan Bakar Minyak (BUBBM), seperti Pertamina, AKR, Total, dan Shell.


Sebelumnya, dalam wawancara terpisah, Togar memperkirakan jika perluasan program B20 diimplementasikan tahun ini harga minyak sawit bisa terdongkrak US$50 hingga akhir tahun. Kenaikan harga utamanya dipicu oleh kenaikan konsumsi CPO.

Sebagai catatan, berdasarkan data Gapki, harga CPO sepanjang paruh pertama 2018 bergerak di kisaran US$605 hingga US$695 per ton, belum menembus US$700 per ton.

Kondisi harga sawit dipengaruhi oleh melimpahnya stok komoditas penghasil minyak nabati di pasar global.

(bir)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *